THE NORRIS HERITAGE

Johanson Finley Norris adalah seorang pengusaha asal Bristol, Inggris, yang bergerak pada bidang otomotif. Selama masa keagungan, ia menanamkan saham di beberapa negara termasuk Indonesia. Disanalah ia bertemu dengan sang pujaan hati, Masayu Caturrangga. Masayu gadis keturunan Tiongkok - Jawa yang bekerja di salah satu perusahaan otomotif sebagai sekretaris dari direktur utama perusahaan yang ditanamkan sahamnya oleh Johan.Mengingat pekerjaannya sebagai sekretaris dari seorang direktur utama, bepergian keluar kota dan berinteraksi langsung dengan para pemegang saham adalah suatu hal yang kerap ia lakukan, dan bertemu dengan Johan adalah suatu hal yang tak jarang ia lakukan pula.Melihat intensitas pertemuan keduanya, Johan pun perlahan mulai jatuh cinta pada sosok Masayu. Butuh waktu kurang lebih 2 tahun untuk dirinya mendekati Masayu hingga keduanya pun melangsungkan pernikahan dan melahirkan tiga orang anak.
pilar pertama
Keluarga dari Martinus Nugroho dan anak pertama keluarga Norris, Agatha Caroline Norris


pilar kedua
Keluarga dari anak kedua keluarga Norris, Timotheus Gandhika Norris dan Ni Luh Wayan Gauri Adiswara
pilar ketiga
Keluarga dari anak Ketiga keluarga Norris, Austin Wiradhana Norris dan Aninda Rahayu


pilar keempat
Keluarga dari Julius Tanumihardja dan anak Keempat (angkat) keluarga Norris, Inggrid Salome Norris
Agatha Caroline Norris atau sering dikenal dengan Agatha, anak pertama dan seorang putri dari keluarga Norris dengan darah campuran British-Chinese-Indo. Hidup sebagai salah satu keluarga berkecukupan tidak membuat Agatha bermalas-malasan. Sejak kecil putri dari Norris tersebut memang memiliki bakat seni yang luarbiasa. Agatha gemar menggambar dan melukis, seiring waktu berjalan kesukaannya di bidang seni mengarah ke tembikar. Agatha yang berumur 17 tahun tersebut mendapat undangan untuk memamerkan hasil karya tembikarnya pada sebuah ekshibisi yang cukup ternama di masanya.Martinus Nugroho, lebih dikenal dengan Martinus. Seorang jenius yang selalu mendapat peringkat pertama semasa sekolahnya. Martinus yang merupakan anak pertama laki-laki dikeluarganya, merasa dirinya adalah tulang punggung bagi keluarga. Rasa tanggung jawab tersebut yang membuat seorang jenius ini berani memulai usahanya di umur 22 tahun. Martinus merelakan masa remajanya untuk fokus meraih kesuksesan. Tiga tahun menjalani usaha kini dirinya menjadi pimpinan dari PT. WOODENLY LIVING sebuah perusahaan start-up dibidang furniture yang memiliki lebih dari 1.000 karyawan.Siapa sangka kedua insan tersebut merupakan jodoh yang telah ditakdirkan oleh Tuhan. Berawal dari Martinus yang menjadi sponsor untuk ekshibisi kenalannya, melihat karya indah dari salah satu artist tembikar ternama Agatha Caroline Norris. Gadis berkulit putih dengan bentuk rahang wajah yang tegas serta sorotan matanya yang lembut membuat seorang Martinus tertarik untuk mendekatinya. Cinta pada pandangan pertama, begitulah takdir menentukan kisah mereka. Pertemuan itu membawa hubungan keduanya ke jenjang lebih serius.Agatha yang berumur 20 tahun dengan Martinus yang berumur 25 tahun, cinta mereka disatukan dengan ikrar suci yaitu pernikahan. Walaupun perkenalan mereka tidaklah lama, tetapi pernikahan yang dijalaninya sangat harmonis. Kini pasangan tersebut dikaruniai empat anak cantik dan rupawan yang selalu memberikan kebahagiaan dan keceriaan di dalam keluarganya.
Timotheus Gandhika Norris merupakan anak kedua dari pasangan Johansen Finley Norris dan juga Masayu Caturrangga. Sebagai anak laki-laki pertama di dalam keluarganya, Gandhika ditunjuk sebagai penerus perusahaan milik ayahnya yang bergerak di bidang otomotif.Suatu ketika, Gandhika yang memang seorang jenius bisnis melihat banyak peluang di Pulau Bali, mengingat tempat tersebut merupakan salah satu tempat yang sering kali dikunjungi turis, dirinya berencana untuk melakukan sebuah pameran mobil di salah satu pusat perbelanjaan yang terletak dikawasan pusat kota di Pulau Bali. Dengan cepat, dirinya meminta kepada sang sekretaris untuk menghubungi pihak pusat perbelanjaan dan melakukan perjanjian bisnis. Saat itu, Gandhika berhadapan langsung dengan pemilik pusat perbelanjaan tersebut, Gauri. Dari sana lah mereka memulai kisah cinta mereka. Bahkan untuk mendekati Gauri, Gandhika menanam saham di pusat perbelanjaan tersebut.5 tahun setelah berhasil mendapatkan Gauri, Gandhika kemudian menikahinya di tahun 1998 dan memboyong sang istri untuk pindah ke Ibu Kota, Jakarta. Satu tahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang di beri nama I Putu Ganesa Abimana Norris. Setahun kemudian, lahirlah seorang putri kedua yang diberi nama Ni Kadek Gangika Shafana Norris. Perbedaan jarak usia yang sangat tipis diantara keduanya tidak menjaminkan bahwa kedua bersaudara tersebut akan selalu akur dan tidak pernah bertengkar, karena pada faktanya, tidak jarang keduanya bertengkar bahkan hanya karena hal hal kecil. Empat tahun kemudian, Gauri dan Gandhika pun kembali dikaruniai putra yang mereka namakan I Nyoman Gunandra Aldion Norris. Setelah Aldion lahir, Gauri dan Gandhika sepakat untuk tidak memiliki anak lagi. Karena mereka merasa, lahirnya 3 orang anak untuk mereka sudahlah cukup.
Austin Wiradhana Norris adalah bungsu dari pasangan Johanson Finley Norris dan Masayu Caturrangga yang berprofesi sebagai direktur pada perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha keramik dan marmer. Suatu ketika ia menjadi investor perusahaan keramik di Jepang dan disanalah ia bertemu dengan sang tambatan hati, Aninda Rahayu yang saat itu menjabat sebagai personal asisten dari kliennya. Singkat cerita, mereka menikah dan tinggal di Jepang selama beberapa tahun dan dikaruniai anak laki-laki tampan. Setelah anak sulungnya berusia satu tahun, mereka semua memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Aninda, sang istri pun telah resign dari pekerjaannya dan memilih untuk membantu sang suami. Keluarga bahagia itu pun dikaruniai anak kembali, dan keduanya kini memiliki dua orang putra juga dua orang putri. Hidup mereka cukup rukun, sang ayah yang tak pernah memaksakan kehendak serta keinginan sang anak membuat anak mereka tumbuh menjadi sosok yang penyayang.
Kecelakaan beruntun yang terjadi pada tahun 1977 menyebabkan puluhan orang terluka ringan, berat, hingga merenggut nyawa termasuk orang tua dari Inggrid yang turut meregang nyawa demi menjaga sang buah hati sebisa mereka hingga akhir hayat. Kejadian itu akhirnya membuat keluarga Norris mengangkat anak semata wayang teman baiknya dan berjanji untuk membesarkan Inggrid yang kala itu masih berusia enam tahun sebagaimana ia membesarkan anak-anak kandungnya.Setelah secara sah diakui hukum sebagai anak angkat dari Johanson Finley Norris dan Masayu Caturrangga, namanya juga secara resmi menjadi Inggrid Salome Norris. Hubungan persahabatan yang sudah dijalin dengan anak sulung keluarga Norris, Agatha Caroline Norris, juga terjalin lebih baik sebab keduanya dapat bertemu lebih sering. Meski hanya sekadar anak angkat tetap saja semakin lama ia menghabiskan waktu bersama keluarga Norris, semakin besar pula keinginan Inggrid untuk membalas jasa keluarga yang telah menampung dan banyak membantu orang tua kandungnya di masa lalu. Maka secara perlahan ia mulai mempelajari perusahaan yang digeluti oleh kedua orang tua angkatnya. Dari sejarah perusahaan dan keluarga sampai pada saat itu juga.Hingga suatu saat Inggrid sudah dipercayakan menjadi perwakilan keluarga Norris di salah satu pesta perayaan, di situlah ia bertemu dengan seorang pria bernama Julius yang saat itu merupakan calon pewaris perusahaan otomotif nomor dua setelah perusahaan milik Norris. Usia keduanya yang tidak terpaut jauh membuat obrolan tidak terasa membosankan dan dengan mudah membuat keduanya jatuh hati. Seiring waktu juga mereka bertemu secara tidak sengaja di acara yang lain sampai memutuskan untuk bertemu lebih banyak lagi secara diam-diam. Sampai suatu saat masing-masing memberanikan diri untuk mempertemukan kedua keluarga. Pada awalnya memang sulit, lantaran di masa lalu perusahaan Julius dan Norris pernah hampir berhasil menjalankan kerjasama sebelum terputus beberapa hari sebelum eksekusi akibat suatu kendala dari pihak ayah Julius. Akan tetapi masa lalu tetap tinggal di masa lalu dan hubungan Julius dengan Inggrid membuka lembaran baru bagi kedua belah pihak, termasuk perusahaan yang kini menjadi rekan perusahaan terkenal dan menciptakan anak perusahaan di beberapa daerah.
